AS-China-Eropa Beda Arah Soal Suku Bunga, BI Mau Ikut Mana?

AS-China-Eropa Beda Arah Soal Suku Bunga, BI Mau Ikut Mana?

Gubernur Bank Indonersia Perry Warjiyo memaparkan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Desember 2023. (Tangkapan Layar Youtube Bank Indonesia)

Bank Indonesia akan mengumumkan kebijakan suku bunga pada hari ini, Rabu (17/1/2024). Pelaku pasar memproyeksi BI akan kembali menahan suku bunga di level 6,00% di tengah kondisi global yang masih tidak stabil dan ekspektasi pemangkasan suku bunga pada 2024.

Pelaku pasar juga menunggu tanggapan BI perihal kondisi ekonomi secara global khususnya eskalasi geopolitik di Laut Merah yang berkorelasi dengan inflasi.

Konsensus pasar yang https://sportifkas138.shop/ dihimpun CNBC Indonesia dari 10 lembaga/institusi memperkirakan secara absolut bahwa BI akan menahan suku bunga acuan (BI rate) di level 6,00%.

Suku bunga Deposit Facility kini berada di posisi 5,25% dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.

Jika BI rate benar-benar kembali ditahan di level 6%, maka ini menjadi kali ketiga BI menahan di level tersebut setelah sebelumnya, BI menaikkan suku bunganya pada Oktober 2023 sebesar 25 basis poin (bps) dari 5,75%.

BI kemungkinan besar akan menahan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah sudah melandainya inflasi Indonesia. Gubernur BI Perry Warjiyo dalam beberapa kesempatan menegaskan jika kebijakan moneter kini difokuskan untuk menjaga stabilitas rupiah mengingat inflasi yang sudah terkendali.

Selain keputusan suku bunga, pelaku pasar hingga investor juga menunggu sinyal BI mengenai kebijakan suku bunga ke depan, terutama kapan BI akan mulai memangkas suku bunga.

Arah Suku Bunga Global Masih Beragam

Dari perspektif makroekonomi, salah satu topik besar dalam tahun 2023 adalah pengetatan kebijakan moneter yang sedang berlangsung, dengan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dan bank sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga lebih dari yang diperkirakan.

Sedangkan pada 2024, suku bunga diekspektasikan mengalami penurunan mengingat disinflasi yang terjadi cukup signifikan pada beberapa negara, termasuk AS, negara di Eropa, dan lainnya.

Di AS, anggota Federal Open Meeting Committee (FOMC) dalam dokumen dot plot Desember 2023, menunjukkan tiga kali pemotongan sebesar 25 basis poin pada tahun 2024 dengan median 4,6% Pelaku pasar semakin menangkap sinyal yang lebih kuat bagi pemangkasan suku bunga ke depan.

The FedFoto: Dot Plot Desember 2023
Sumber: The Fed

Sementara di lain sisi, konsensus mengharapkan ECB juga memangkas suku bunganya pada bulan Juli, sehingga suku bunga deposito kembali ke 3,25% pada akhir tahun, dibandingkan dengan level saat ini sebesar 4%.

Namun, sejumlah pejabat ECB menegaskan jika pemangkasan suku bunga masih jauh dari bayangan mereka. Terlebih, inflasi Eropa kembali menanjak ke 2,9% pada Desember 2023 dari 2,4% pada November

“Saya khawatir orang akan kecewa.Kita belum mulai membicarakan mengenai pemangkasan suku bunga karena kita seharusnya memang belum membahasnya. Apa yang kita lihat saat ini malah berjalan sebaliknya sehingga kita belum melihat adanya pemangkasan,” tutur Gubernur Bank Sentral Austria,Steve Sedgwick, kepada CNBC International.

 

ECBFoto: ECB DEPOSIT RATE CONSENSUS FORECAST
Sumber: BNP Paribas

Proyeksi Suku Bunga Acuan Berbagai Negara

Ekspektasi pemangkasan suku bunga diharapkan dapat terjadi di berbagai negara pada 2024 sejalan dengan melandainya inflasi global.

BI sendiri membuka peluang pemangkasan suku bunga acuan pada semester II-2024 mengingat inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cukup stabil.

Hal ini serupa dengan Ekonom Bank Danaman, Irman Faiz yang mengatakan potensi BI memangkas suku bunga yakni pada Juli atau Agustus 2024, khususnya setelah The Fed mulai memangkas suku bunga.

Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto pun mengungkapkan hal yang sama yakni awal semester-II 2024 merupakan momen di mana BI mulai memangkas suku bunganya sebesar 25 bps.

Bank Indonesia akan mengumumkan kebijakan suku bunga pada hari ini, Rabu (17/1/2024). Pelaku pasar memproyeksi BI akan kembali menahan suku bunga di level 6,00% di tengah kondisi global yang masih tidak stabil dan ekspektasi pemangkasan suku bunga pada 2024.

Pelaku pasar juga menunggu tanggapan BI perihal kondisi ekonomi secara global khususnya eskalasi geopolitik di Laut Merah yang berkorelasi dengan inflasi.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 10 lembaga/institusi memperkirakan secara absolut bahwa BI akan menahan suku bunga acuan (BI rate) di level 6,00%.

Suku bunga Deposit Facility kini berada di posisi 5,25% dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.

Jika BI rate benar-benar kembali ditahan di level 6%, maka ini menjadi kali ketiga BI menahan di level tersebut setelah sebelumnya, BI menaikkan suku bunganya pada Oktober 2023 sebesar 25 basis poin (bps) dari 5,75%.

BI kemungkinan besar akan menahan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah sudah melandainya inflasi Indonesia. Gubernur BI Perry Warjiyo dalam beberapa kesempatan menegaskan jika kebijakan moneter kini difokuskan untuk menjaga stabilitas rupiah mengingat inflasi yang sudah terkendali.

Selain keputusan suku bunga, pelaku pasar hingga investor juga menunggu sinyal BI mengenai kebijakan suku bunga ke depan, terutama kapan BI akan mulai memangkas suku bunga.

Arah Suku Bunga Global Masih Beragam

Dari perspektif makroekonomi, salah satu topik besar dalam tahun 2023 adalah pengetatan kebijakan moneter yang sedang berlangsung, dengan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dan bank sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga lebih dari yang diperkirakan.

Sedangkan pada 2024, suku bunga diekspektasikan mengalami penurunan mengingat disinflasi yang terjadi cukup signifikan pada beberapa negara, termasuk AS, negara di Eropa, dan lainnya.

Di AS, anggota Federal Open Meeting Committee (FOMC) dalam dokumen dot plot Desember 2023, menunjukkan tiga kali pemotongan sebesar 25 basis poin pada tahun 2024 dengan median 4,6% Pelaku pasar semakin menangkap sinyal yang lebih kuat bagi pemangkasan suku bunga ke depan.

The FedFoto: Dot Plot Desember 2023
Sumber: The Fed

Sementara di lain sisi, konsensus mengharapkan ECB juga memangkas suku bunganya pada bulan Juli, sehingga suku bunga deposito kembali ke 3,25% pada akhir tahun, dibandingkan dengan level saat ini sebesar 4%.

Namun, sejumlah pejabat ECB menegaskan jika pemangkasan suku bunga masih jauh dari bayangan mereka. Terlebih, inflasi Eropa kembali menanjak ke 2,9% pada Desember 2023 dari 2,4% pada November

“Saya khawatir orang akan kecewa.Kita belum mulai membicarakan mengenai pemangkasan suku bunga karena kita seharusnya memang belum membahasnya. Apa yang kita lihat saat ini malah berjalan sebaliknya sehingga kita belum melihat adanya pemangkasan,” tutur Gubernur Bank Sentral Austria,Steve Sedgwick, kepada CNBC International.

 

ECBFoto: ECB DEPOSIT RATE CONSENSUS FORECAST
Sumber: BNP Paribas

Proyeksi Suku Bunga Acuan Berbagai Negara

Ekspektasi pemangkasan suku bunga diharapkan dapat terjadi di berbagai negara pada 2024 sejalan dengan melandainya inflasi global.

BI sendiri membuka peluang pemangkasan suku bunga acuan pada semester II-2024 mengingat inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cukup stabil.

Hal ini serupa dengan Ekonom Bank Danaman, Irman Faiz yang mengatakan potensi BI memangkas suku bunga yakni pada Juli atau Agustus 2024, khususnya setelah The Fed mulai memangkas suku bunga.

Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto pun mengungkapkan hal yang sama yakni awal semester-II 2024 merupakan momen di mana BI mulai memangkas suku bunganya sebesar 25 bps.

Bank sentral China (PBoC) pada Senin (15/1/2024) kembali mempertahankan suku bunga dasar pinjaman (LPR) satu tahun, yang merupakan fasilitas pinjaman jangka menengah yang digunakan untuk pinjaman korporasi dan rumah tangga, tidak berubah pada rekor terendah sebesar 3,45% selama empat bulan berturut-turut.

Sedangkan suku bunga lima tahun, yang menjadi acuan hipotek sebesar 4,2% selama enam bulan berturut-turut.

Tahun lalu, suku bunga China berada di angka 3,65% kemudian dilakukan pemangkasan menjadi 3,55% dan lebih lanjut cut rate dilakukan ke posisi 3,45%. Hal ini dilakukan sebagai upaya China untuk mempercepat pemulihan ekonomi mereka.

China belum mampu menggerakkan ekonomi mereka dengan cepat meskipun Negara Tirai Bambu sudah membuka perbatasan sejak Januari 2023.

Secara umum, kondisi perekonomian China masih belum pulih dengan baik pasca Covid-19, hal ini memberi tekanan ekonomi Indonesia karena China merupakan mitra dagang utama Indonesia.

Tidak sampai di situ, China juga sedang mempertimbangkan penerbitan stimulus jumbo melalui obligasi spesial “ultra long” senilai satu triliun yuan atau US$139 miliar setara Rp2.166 triliun (Asumsi kurs Rp15.585/US$).

Peluncuran obligasi khusus tersebut ditengarai menjadi upaya guna mengentaskan perekonomian China yang saat ini masih lesu. Hal ini akibat dari tekanan deflasi yang kuat, krisis properti yang sedang berlangsung, dan lemahnya permintaan domestik masih membebani aktivitas perdagangan, sehingga mendorong seruan di kalangan ekonom dan investor untuk melakukan stimulus lebih lanjut.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*